Monday, 16 September 2013

ASKEP WAHAM



LAPORAN PENDAHULUAN

A.    Masalah Utama.
Perubahan isi pikir : waham

B.     Pengertian.
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien (1).
Manifestasi klinik waham yaitu berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung (2).



C.    Proses terjadinya masalah
1.      Penyebab
Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.(3)

2.      Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.


D.    Pohon masalah


 
E.

 Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1.      Masalah keperawatan :
a.       Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b.      Kerusakan komunikasi : verbal
c.       Perubahan isi pikir : waham
d.      Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

2.      Data yang perlu dikaji :
a.       Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
1).  Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri
2).  Data objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang.



b.      Kerusakan komunikasi : verbal
1).  Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
2). Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang

c.   Perubahan isi pikir : waham ( ………….)
1).  Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
2). Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung

d.  Gangguan harga diri rendah
1).  Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
2).  Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup


F.     Diagnosa Keperawatan
a.    Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
b.    Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan  berhubungan dengan waham
c.    Perubahan isi  pikir : waham (……………..) berhubungan dengan harga diri rendah.



E.  Rencana Keperawatan
Diagnosa Keperawatan 1: kerusakan komunikasi verbalberhubungan dengan waham
1.      Tujuan umum :
Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2.      Tujuan khusus :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Tindakan :
Ù±           Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
Ù±           Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati,  tidak membicarakan isi waham klien.
Ù±           Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
Ù±           Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri.

b.      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
Ù±           Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
Ù±           Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
Ù±           Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari ‑ hari dan perawatan diri).
Ù±           Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

c.       Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
Ù±           Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
Ù±           Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
Ù±           Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
Ù±           Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
Ù±           Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

d.      Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan :
Ù±           Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
Ù±           Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
Ù±           Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

e.       Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Tindakan :
Ù±           Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek    samping minum obat.
Ù±           Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat,    dosis, cara dan waktu).
Ù±           Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
Ù±           Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

f.       Klien dapat dukungan dari keluarga
Tindakan :
Ù±           Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala  waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan  follow up obat.
Ù±           Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga.



Diagnosa Keperawatan 2: Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan waham
a.       Tujuan Umum:
Klien terhindar dari mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
b.      Tujuan Khusus:
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Tindakan:
Ù±           Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, empati, sebut nama perawat dan jelaskan tujuan interaksi.
Ù±           Panggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
Ù±           Bicara dengan sikap tenang, rileks dan tidak menantang.
Ù±           Beri perhatian dan penghargaan : teman klien walau tidak menjawab.

2.      Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan.
Tindakan:
Ù±           Beri kesempatan mengungkapkan perasaan.
Ù±           Bantu klien mengungkapkan perasaan jengkel / kesal.
Ù±           Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap tenang.

3.      Klien dapat mengidentifikasi tanda‑tanda perilaku kekerasan.
Tindakan :
              >  Anjurkan klien mengungkapkan yang dialami dan dirasakan saat jengkel/kesal.
>  Observasi tanda perilaku kekerasan.
>  Simpulkan bersama klien tanda‑tanda jengkel / kesal yang   dialami klien.
4.      Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Tindakan:
Ù±           Anjurkan mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Ù±           Bantu bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Ù±           Tanyakan "apakah dengan cara yang dilakukan masalahnya selesai?"


5.      Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Tindakan:
Ù±           Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan.
Ù±           Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang digunakan.
Ù±           Tanyakan apakah ingin mempelajari cara baru yang sehat.
                                                                                                                         
6.      Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Tindakan :
Ù±           Beri pujian jika mengetahui cara lain yang sehat.
Ù±           Diskusikan cara lain yang sehat.Secara fisik : tarik nafas dalam jika sedang kesal, berolah raga, memukul bantal / kasur.
Ù±           Secara verbal : katakan bahwa anda sedang marah atau kesal / tersinggung
Ù±           Secara spiritual : berdo'a, sembahyang, memohon kepada Tuhan untuk diberi kesabaran.

7.      Klien dapat mengidentifikasi cara mengontrol perilaku kekerasan.
Tindakan:
Ù±           Bantu memilih cara yang paling tepat.
Ù±           Bantu mengidentifikasi manfaat cara yang telah dipilih.
Ù±           Bantu mensimulasikan cara yang telah dipilih.
Ù±           Beri reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai dalam  simulasi.
Ù±           Anjurkan menggunakan cara yang telah dipilih saat jengkel / marah.

8.      Klien mendapat dukungan dari keluarga.
Tindakan :
Ù±           Beri pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
Ù±           Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga.




9.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program).
Tindakan:
Ù±           Diskusikan dengan klien tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping).
Ù±           Bantu klien mengunakan obat dengan prinsip 5 benar (nama klien, obat, dosis, cara dan waktu).
Ù±           Anjurkan untuk membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.

Diagnosa Keperawatan 3: Perubahan isi pikir : waham ( …….. ) berhubungan dengan harga diri rendah
1.      Tujuan umum :
Klien tidak terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah/klien akan meningkat harga dirinya.
2.      Tujuan khusus :
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
Ù±           Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
Ù±           Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
Ù±           Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
Ù±           Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri

b.      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan :
Ù±           Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Ù±           Hindarkan memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan memberi pujian yang realistis
Ù±           Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki

c.       Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Tindakan :
Ù±           Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Ù±           Diskusikan pula kemampuan yang dapat dilanjutkan setelah pulang ke rumah

d.      Klien dapat menetapkan / merencanakan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan :
Ù±           Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
Ù±           Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
Ù±           Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan

e.       Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
Ù±           Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
Ù±           Beri pujian atas keberhasilan klien
Ù±           Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah

f.       Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Tindakan :
Ù±           Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien
Ù±           Bantu keluarga memberi dukungan selama klien dirawat
Ù±           Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
Ù±           Beri reinforcement positif atas keterlibatan keluarga








DAFTAR PUSTAKA


1.      Aziz R, dkk. Pedoman asuhan keperawatan jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino Gondoutomo. 2003
2.      Keliat Budi A. Proses keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta: EGC. 1999
3.      Tim Direktorat Keswa. Standart asuhan keperawatan kesehatan jiwa. Edisi 1. Bandung: RSJP.2000
4.      Townsend M.C. Diagnosa keperawatan pada keperawatan psikiatri; pedoman untuk pembuatan rencana keperawatan. Jakarta: EGC. 1998
5.      …………..Pelatihan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Semarang. 20 – 22 Novembr 2004. unpublished

















ASKEP TOILETING



LAPORAN PENDAHULUAN


A.    Masalah Utama
      Ketidakmampuan toileting.

B.     Proses Terjadinya Masalah
        Kurang perawatan diri: toileting adalah suatu keadaan dimana individu mengalami kegagalan kemampuan untuk melaksanakan atau menyelesaikan aktivitas toileting lengkap untuk diri sendiri (Carpenito, 1977)
     Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya ketidakmampuan melakukan toileting antara lain:
a.    Perkembangan:
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif dan keterampilan toileting terganggu.
b.   Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan toileting.
c.    Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan dari lingkungannya.

C.    1. Pohon Masalah

Defisit perawatan diri: toileting





Isolasi sosial : menarik diri

       2. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
a.       Masalah keperawatan:
1).    Defisit perawatan diri: toileting
2).    Ketidakmampuan toileting.
3).    Isolasi sosial: menarik diri.

b.      Data yang perlu dikaji:
1).    Data Subyektif:
Klien mengatakan: tidak mau ke kamar mandi, tidak mau menyiram toilet.
2).    Data Obyektif:
Klien tidak mau: ke kamar mandi, menyiram toilet, menggunakan alat bantu ke kamar mandi, klien tidak mau pindah dari tempat tidur ke kamar mandi.

C.    Diagnosa keperawatan
1.      Defisit perawatan diri: toileting berhubungan dengan menurunnya motivasi perawatan diri
2.      Menurunnya motivasi perawatan diri berhubungan dengan menarik diri

D.    Rencana tindakan
a.       Tujuan umum: sesuai masalah (problem).
b.      Tujuan khusus
            1. Klien dapat menyebutkan pengertian toileting
                Tindakan:
                1.1. Bicarakan tentang pengertian toileting
                1.2. Beri kesempatan mengungkapkan pendapatnya
                1.3. Beri reinforcement positif atas keberhasilannya.

            2. Klien dapat menyebutkan penyebab tidak mau melakukan toileting
                Tindakan:
2. 1.  Bantu mengungkapkan penyebab tidak mau melakukan toileting
                2.2.  Diskusikan bersama akibat apabila tidak mau melakukan toileting

            3. Klien dapat menyebutkan keuntungan toileting
                Tindakan:
                3. 1. Bantu mengungkapkan keuntungan toileting
                3.2.  Bersama klien mengidentifikasi kemampuan untuk melakukan toileting

            4. Klien dapat menyebutkan cara melakukan toileting
                Tindakan:
                4.1.  Diskusi bersama klien cara melakukan toileting
                4.2.  Beri reinforcement positif

             5. Klien dapat melakukan toileting secara bertahap
                 Tindakan:
                 5.1. Bimbing untuk demonstrasi cara melakukan toileting
                 5.2. Beri kesempatan melakukan toileting
                 5.3. Motivasi melakukan toileting secara teratur
                 5.4. Beri kesempatan mengungkapkan perasaannya setelah melakukan toileting

              6. Klien mendapat dukungan keluarga
                  Tindakan:
                   6.1. Beri pendidikan kesehatan cara merawat klien melalui pertemuan keluarga.
                   6.2. Beri reinforcement positif atas keberhasilan keluarga.

ASKEP SUICIDE




LAPORAN PENDAHULUAN

I.       MASALAH UTAMA
Perilaku bunuh diri.

II.    PROSES TERJADINYA MASALAH
Bunuh diri adalah perilaku merusak diri yang langsung dan disengaja untuk mengakhiri kehidupan. Individu secara sadar berkeinginan untuk mati sehingga melakukan tindakan-tindakan untuk mewujudkan keinginan tersebut.
Perilaku bunuh diri disebabkan karena individu mempunyai koping tidak adaptif akibat dari gangguan konsep diri: harga diri rendah.
Resiko yang mungkin terjadi pada klien yang mengalami krisis bunuh diri adalah mencederai diri dengan tujuan mengakhiri hidup.
Perilaku yang muncul meliputi isyarat, percobaan atau ancaman verbal untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan kematian perlukaan atau nyeri pada diri sendiri.

III.  A. POHON MASALAH








                     
  1. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
1.      Perilaku bunuh diri
a.       DS      : menyatakan ingin bunuh diri / ingin mati saja, tak ada gunanya hidup.
b.      DO     : ada isyarat bunuh diri, ada ide bunuh diri, pernah mencoba bunuh diri.
2.      Koping maladaptif
a.       DS      : menyatakan putus asa dan tak berdaya, tidak bahagia, tak ada harapan.
b.      DO     : nampak sedih, mudah marah, gelisah, tidak dapat mengontrol impuls.



IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Resiko mencederai diri berhubungan dengan perilaku bunuh diri (suicide).
2.      Perilaku bunuh diri (suicide) berhubungan dengan koping maladaptif.

V.    RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
a.       Tujuan umum: Klien tidak mencederai diri.
b.      Tujuan khusus
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan:
1.1.  Perkenalkan diri dengan klien 
1.2.  Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak menyangkal.
1.3.  Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
1.4.  Bersifat hangat dan bersahabat.
1.5.  Temani klien saat keinginan mencederai diri meningkat.

2.      Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh diri
2.1. Jauhkan klien dari benda‑benda yang dapat membahayakan (pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain‑lain).
2.2.  Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat oleh perawat.
2.3.  Awasi klien secara ketat setiap saat.

3.   Klien dapat mengekspresikan perasaannya
Tindakan:
3.1.    Dengarkan keluhan yang dirasakan.
3.2.  Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan keraguan, ketakutan dan keputusasaan.
3.3     Beri dorongan untuk mengungkapkan mengapa dan bagaimana harapannya.
3.4.   Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti  penderitaan, kematian,  dan lain‑lain.
3.5.   Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang menunjukkan keinginan untuk hidup.

4.   Klien dapat meningkatkan harga diri
Tindakan:
4.1.   Bantu untuk memahami bahwa klien dapat mengatasi keputusasaannya.
4.2.   Kaji dan kerahkan sumber‑sumber internal individu.
4.3. Bantu mengidentifikasi sumber‑sumber harapan (misal: hubungan antar sesama, keyakinan, hal‑hal untuk diselesaikan).

5.   Klien dapat menggunakan koping yang adaptif
Tindakan:
5.1.  Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman‑pengalaman yang menyenangkan  setiap hari (misal : berjalan-jalan, membaca buku favorit, menulis surat dll.).
5.2.   Bantu untuk mengenali hal‑hal yang ia cintai dan yang ia sayang, dan pentingnya terhadap kehidupan orang lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam kesehatan.
5.3.    Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain yang mempunyai suatu masalah dan atau penyakit yang sama dan telah mempunyai pengalaman positif dalam mengatasi masalah tersebut dengan koping yang efektif.

6.   Klien dapat menggunakan dukungan sosial
Tindakan:
6.1.   Kaji dan manfaatkan sumber‑sumber ekstemal individu (orang‑orang terdekat, tim pelayanan kesehatan, kelompok pendukung, agama yang dianut).
6.2.   Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, kepercayaan agama).
6.3.   Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal : konseling  pemuka agama).

7.      Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
Tindakan:
          7.1.  Diskusikan tentang obat (nama, dosis, frekuensi, efek dan efek samping minum obat).
7.2.   Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu).
7.3.   Anjurkan membicarakan efek dan efek samping yang dirasakan.
7.4.   Beri reinforcement positif bila menggunakan obat dengan benar.