Tuesday, 17 September 2013

ASKEP MENINGITIS



MENINGITIS

A.   Definisi
Meningitis adalah radang selaput otak yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme.

B.   Klasifikasi
Meningitis berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi:
1.    meningitis bacterial
a.    Bakteri non spesifik: meningokokkus, H. Inflensa, S. Pneumonia, Stapilokokkus, Streptokokkus, E. Coli, S. Typhosa.
b.    Bakteri spesifik: M. tuberkulosa
2.    Meningitis virus
Beberapa jenis virus dapat menyebabkan meningitis seperti Mumps (gondong), measles, dll.
3.    meningitis karena jamur
4.    meningitis karena parasit, seperti toxoplasa, amoeba
Berdasarkan perlangsungan dan pemeriksaan cairan cerebrospinal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.    Meningitis purulenta/ M. bakteri akut
Penyebabnya adalah bakteri non spesifik
Perjalanan penyakit berjalan akut adalah sbb:
a.    secara hematogen dari suatu sumber infeksi (tonsillitis, pneumonia, endokarditis, tromboplebitis, dll)
b.    Perluasan langsung dari peradangan organ di dekat selaput otak (sinusitis, otitis media, mastoiditis, abses otak dll)
c.    Trauma di kepala dengan fraktur kranium terbuka, komplikasi tindakan bedah otak
2.    Meningitis serosa/ tuberkulosa
Pada umumnya terjadi karena komplikasi penyebaran tuberculosis primer. Secara hematogen kuman samapi ke otak, sumsum tulang belakang, vertebra →membentuk tuberkel→pecah→selaput otak. Cara lain dengan perluasan langsung dari mastoiditis tuberkulosa.
3.    meningitis aseptik

C.  Tanda dan Gejala
Subjektif:
  1. Panas (Gejala kardial)
  2. Mual dan muntah
  3. Iritabel
  4. Anoreksia
  5. Nyeri kepala
  6. Bingung
  7. Rewel
  8. kadang-kadang sakit pinggang
  9. Kekakuan otot
  10. Kejang (fokal dan murni)
  11. Fotofobia

Objektif
  1. Gangguan kesadaran (stupor sampai koma)
  2. Kernig sign + (tanda kardial)
  3. Brudzinsky sign + (tanda kardial)
  4. Kaku kuduk
  5. Tekanan intracranial meninggi (fontanel cembung, edema papil)
  6. Gangguan system saraf pusat
Gangguan kesadaran
Gangguan saraf cranial: paralysis, buta, tuli
  1. Hiperestesia

D.  Pemeriksaan Penunjang
1.  Laboratorium
     a.  Pungsi Lumbal
·         Warna jernih, mengabur samapi keruh (tergantung sifat eksudat)
·         Tekanan cairan intracranial meningkat
·         Jumlah sel meningkat (100-60.000) pada kasus bakteri didominasi olel sel polimorfonuklear
·         Reaksi Pandy(+), Nonne Apelt (+)
·         Protein meningkat: 35 mg%
·         Kadar gula turun: 40 mg% (bisa samapi 0). (kadar gula CSS normal = separo kadar gula darah)
·         Kultur: bila prosedur baik 90 % biakan positif
Khusus untuk meningitis tuberculosis kultur dilakukan 2 kali yaitu setelah 3-4 hari pengobatan dilakukan dengan kultur ulangan positif sulit dilakukan.
b.  Darah
·         AL normal atau meningkat tergantung etiologi
·         Hitung jenis didominasi sel polimorfonukleus atau limfosit
·         Kultur 8—90% (+), untuk TBC 2% (+)
2.  Pemeriksaan pelengkap
  1. CRP darah dan cairan cerebrospinal
  2. Peningkatan kadar laktat cairan cerebrospinal
  3. Penurunan pH cairan cerebrospinal
  4. LDK, CPK, GOT
  5. Khusus untuk kasus TBC:
  6. Kurasan lambung
  7. Takahashi, PAP, Imuzim
  8. Uji PPD, BCG, Ro thorak
  9. CT scan kepala
  10. Funduskopi untuk melihat tuberkel di retina

E.  Penatalaksanaan
Penderita rawat inap
Penderita kemungkinan harus rawat inap dan dikerjakan tata laksana sbb:
1.    Cairan infuse D5-1/4 S atau D5-1/2 S, jenis dan dosis tergantung umur dan BB.
2.    Kalau perlu pemberian oksigen dan resusitasi
3.    Antibiotik, sesuai penyebab:
Meningitis bacterial:
a.    Neonatus
Pilihan I: sefalosporin (cefotaxim, seftazidin)
Cefotaxim: 100-150 mg/kgBB/hr, IV, dibagi 2 dosis
Seftazidin: 60-90 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis
Pilihan II: kombinasi ampisilin + aminoglikosid atau ( penetrasi ke sawar darah otak lebih baik)
Ampisilin: 100-200 mg/kgBB/hari, dibagi 2 dosis
Gentamisin: 5 mg/kgBB/hari, dibagi 2 dosis
b.    Pada bayi umur lebih dari 1 bulan dan anak di atas 1 tahun
Pilihan I: kombinasi ampisilin dan kloramfenikol
Ampisilin: 200-400 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 3 dosis
Kloramfenikol: 100 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 3 dosis
Bila respon bagus diberikan dalam 14 hari
Pilihan II: sefalosporin (sefuroxim, sefatoxim, dan ceftriaxone)
Sefuroxim: 240 mg/kgBB/hari, IV terbagi dalam 3 dosis
Sefotaxim: 200 mg/kgBb/hari, IV terbagi dalam 4 dosis
Sefalosporin: 200-400 mg/kgBB/hari IV, terbagi dalam 3 dosis
Ceftriaxone: 100 mg/kgBB/hari, IV, terbagi 2 dosis
Pada keadaan tertentu/ berat bisa dikombinasi dengan aminoglikosid atau kloramfenikol tergantung kuman penyebabnya
Lama pengobatan 12 hari.
Meningitis TBC
Kombinasi:
 INH: 20 mg/kgBB/hari, dosis tunggal per os
Rifampisin: 20 mg/kgBB/hari, dosis tunggal per os
Pirazinamid (PZA): 10-15 mg/kgBB/hari, terbagi 3 dosis
Atau kombinasi:
Etambutol: 20 mg/kgBB/hari, dosis tunggal per os
INH
PZA: 10-15 mg/kgBB/hari terbagi dalam 3 dosis
Lama pengobatan 12 hari
Meningitis virus:
Tergantung virus penyebabnya. Tindakan terapi suportif, konservatif
Pada meningitis virus
Bila termasuk dalam virus yang imunosupresif tidak diberikan kortikosteroid
Bila termasuk dalam virus yang imunologikal excess beri kortikosteroid
4.    Antikonvultan
5.    Kortikosteroid: untuk mengurangi edema celebri, pada meningitis TBC untuk mencegah perelengketan.
Dekametaxone: 1mg/kgBB/hari, IV, dibagi dalam 3 dosis
Pada meningitis bacterial akut, dekametaxone diberikan 30 menit sebelum pemberian antibiotic
6.    Diit: TKTP, kalau perlu dengan MLP
7.    Fisioterapi dan terapi bicara
8.    Konsultasi ke THT (kalau ada kelainan THT)
9.    Konsulatasi ke mata (kalau ada kelainan, seperti buta) dan funduskopi
10.  Konsulatsi ke bedah saraf (kalau ada hidrosefalus)
Pemantauan:
  1. Keadaan umum: terutama kesadaran
  2. Kejang
  3. masukan cairan, makanan
  4. LP ulangan (3 hari setelah pengobatan)
  5. Cushing’s sign (bradikardi dan hipertensi karena edema celebri/kenaikan tekanan intracranial)



Monday, 16 September 2013

ASKEP KISTA OVARIUM




Laporan Pendahuluan
Kista Ovarium

I. Pengertian :
            Kista ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium yang membentuk seperti kantong

II. Pembagian tumor ovarium :
a.       Tumor Nonneoplastik.
1)      Tumor akibat radang
2)      Tumor lain :
q  Kista folikel
q  Kista korpus luteum
q  Kista lutein
q  Kista inklusi germinal
q  Kista endometrium
q  Kista stein – Leventhal.


b.      Tumor neoplastik
1)      Tumor Jinak
a) Tumor Kistik
q  Kistoma ovari simpleks
q  Kistadenoma ovari serosum
q  Kistadenoma ovari musinosum
q  Kista endimetroid
q  Kista dermoid.


b) Tumor Solit
q  Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma, linfangioma.
q  Tumor brenner
q  Tumor sisa adrenal

2)      Tumor ganas Ovarium.

III. Patofisiologi Kista ovarium.
 








Penekanan Daerah sekitar
1.Gangguan miksi ( BAK )     1. Hiperminorea (sel granulosa)          1. Perdarahan lokal
2.Gangguan konstipasi(BAB) 2. Aminorea (Arhenoblastoma)           2.Putaran tangkai(nyeri)
3.Udema pada tungkai                                                                        3. Infeksi pd tumor
4. Robek dinding kista
PELAKSANAAN PROGRAM TERAPI


 


1. OPERASI           2. MEDIKAMENTASA      3. RADIUM
(masalah yg mungkin muncul : Nyeri, Cemas, resiko infeksi,resiko gagalnya terapi, resiko bahaya radiasi)
 

Mekanisme koping baik                                Mekanisme koping jelek

                    Kooperatif                                                        Kecemasan



IV. Kemungkinan Diagnosa Yang muncul.

1.         Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi pada tumor.
2.         Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
3.         Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.
4.         Resiko gangguan BAB / BAK berhubungan dengan penekanan daerah sekitar tumor.
V. Intervensi Keperawatan.
1.         Gangguan rasa nyaman ( Nyeri ) berhubungan dengan putaran tangkai tumor/ infeksi pada tumor
(Tujuan: Setelah diberi tindakan kepw,nyeri berkurang sampai hilang sama sekali)
a.         Kaji tingkat dan intensitas nyeri.
(R/ mengidentifikasi lingkup masalah)
b.         Atur posisi senyaman mungkin.
(R/ Menurunkan tingkat ketegangan pada daerah nyeri)
c.         Kolabarasi untuk pemberian terapi analgesik.
(R/menghilangkan rasa nyeri)
d.        Ajarkan dan lakukan tehnik relaksasi.
(Merelaksasi otot – otot tubuh).

2.         Gangguan rasa nyaman ( cemas ) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
(Tujuan : Setelah 1 X 24 Jam diberi tindakan, gangguan rasa nyaman (cemas) berkurang.
a.         Kaji  dan pantau terus tingkat kecemasan klien.
(R/ mengidentifikasi lingkup masalah secara dini, sebagai pedoman tindakan selanjutnya )
b.         Berikan penjelasan tentang semua permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya.
(R/ Informasi yang tepat menambah wawasan klien sehingga klien tahu tentang keadaan dirinya )
c.         Bina hubungan yang terapeutik dengan klien.
(R/ Hubungan yang terapeutuk dapat menurunkan tingkat kecemasan klien.

3.         Resiko infeksi daerah operasi berhubungan dengan perawatan luka operasi yg kurang adequat.
(Tujuan : Selama dalam perawatan, infeksi luka operasi tidak terjadi)
a.         Pantau dan observasi terus tentang keadaan luka operasinya.
(R/ Deteksi dini tentang terjadinya infeksi yang lebih berat )
b.         Lakukan perawatan luka operasi secara aseptik dan antiseptik.
(R. menekan sekecil mungkin sumber penularan eksterna )
c.         Kolaborasi dalam pemberian antibiotika.
(Membunuh mikro organisme secara rasional )

Daftar pustaka

Sylvia Anderson. (2000). Patofisiologo penyakit, edisi 4, penerbit EGC buku kedokteran, Jakarta.

Marylynn. E.Doengus. (2000). Rencana Asuhan keperawatan, edisi 3, penerbit buku kedokteran, Jakarta.

Sarwono P. ( 1999). Ilmu Kandungan, Yayasan bina pustaka, edisi 2, Jakarta.