Tuesday, 17 September 2013

ASKEP OSTEOARTRITIS


ASKEP OSTEOARTRITIS 
A.    Definisi
Osteoartritis adalah penyakit reumatik yang ditandai oleh kerusakan rawan sendi yang membungkus ujung tulang yang saling bertemu membentuk persendian.

B.     Patogenesis
Kerusakan rawan pada sendi yang berfungsi sebagai bantalan peredam kejut, akan mengakibatkan keradangan pada selaput sendi. Pecahan rawan sendi tersebut dapat masuk ke rongga sendi dan mengakibatkan proses keradangan yang berkelanjutan.
Rawan sendi akan semakin terkikis dengan berjalannya waktu dan mengakibatkan ujung tulang menjadi kasar dan menimbulkan bunyi berderik. Sebagai jawaban tubuh memperbaiki kerusakan tersebut, maka pada bagian dimana rawan sendinya sudah hilang akan dibentuk pertulangan baru yang dikenal dengan osteofit (proses pengkapuran).

C.    Sendi mana yang paling sering terkena OA
Pada dasarnya semu sendi yang memiliki pembungkus dapat terkena OA. Osteoartritis pada tangan, lebih sering mengenai wanita, ada kecenderungan dimana anggota keluarga yang lain juga menderita OA, serta lebih banyak melibatkan sendi jari paling ujung. Sering terlihat adanya tonjolan-tonjolan yang dikenal dengan Nodus Heberden.
Pada laki-laki dan wanita seringkali dijumpai OA pada sendi jempol tangan. Sendi tulang belakang terutama pada pinggang juga dapat terkena OA dan keadaan ini disebut Spondilosis atau Spondilitis.
Persendian yang menyangga berat tubuh adalah yang paling sering terkena OA, misalnya sendi punggun dan sendi lutut.
Sendi lainnya seperti sendi pergelangan kaki, sendi jari kaki, sendi bahu, juga tidak terlepas dari serangan penyakit OA ini walaupun kekerapannya lebih rendah.

D.    Tanda dan Gejala OA
Gejala yang dikeluhkan pada pasien OA, tidak berjalan seiring dengan derajat kerusakan rawan sendi atau gambaran rontgentnya. Sering gambaran rontgentnya normal namun keluhan pasien berat.
Nyeri dan kekakuan merupakan dua hal yang paling banyak dikeluhkan. Pada sekelompok pasien, gejala ini dapat ringan walaupun perubahan gambaran rontgentnya berat. Pada kelompok lainnya nyeri dapat demikian hebat disertai dengan pembengkakan atau bahkan sendi terisi cairan yang banyak, walaupun perubahan gambaran radiologik sangat ringan. Nyeri biasanya membaik dengan istirahat, namun pada saat mulai berjalan akan terasa kaku.
Kelemahan otot paha dan tungkai dapat terjadi dan memberikan rasa tidak enak pada sendi, serta menyebabkan sendi menjadi lebih tidak stabil.
Osteoartritis pada sendi ibu jari akan mengganggu pada saat seseorang menggenggam atau memegang barang seperti cangkir. Pada sendi lutut, nyeri dapat dirasakan saat berjalan, berdiri, serta memerlukan sedikit waktu untuk mengendurkan kekakuan apabila telah duduk atau berdiri lama. Sedangkan pada OA yang menyerang sendi leher atau pinggang, nyeri akan dirasakan sebagai nyeri leher atau pinggang dan tidak jarang disertai dengan penjalaran nyeri ke lengan (OA leher) atau tungkai (OA pinggang).

E.     Patofisiologi
Akibat peningkatan  aktifitas enzim-enzim yang makromolekul matriks tulang rawan sendi terjadi kerusakan fokal tulang rawan sendi secara progresif dan pembentukan tulang baru pada dasar les tulang rawan sendi serta tepi sendi (osteofit). Osteofit terbentuk sebaga suatu proses perbaikan untuk membentuk kembali persendian sehingga di pandang sebagai kegagalan sendi yang progresif.

F.     Diagnosis
Sebagaimana lazimnya, maka diagnosis OA ditegakkan apabila terdapat keluhan OA seperti nyeri, kaku sendi, kadang disertai pembengkakan. Identifikasi faktor resiko juga tidak boleh diabaikan. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan badan yang mencakup berbagai hal termasuk bunyi derik saat sendi digerakkan. Bunyi demikian disebut krepitus. Lingkup gerak sendi, dan nyeri tekan atau nyeri pada pergerakan tertentu seyogyanya tidak terlewati untuk diperiksa. Kadang kita dapat meraba rasa hangat pada permukaan sendi yang terkena. Juga perubahan bentuk sendi sebaiknya diidentifikasi. Apabila gejala dan tanda OA ditemukan, maka pemeriksaan radiologik terhadap sendi yang bersangkutan dilakukan. Seperti dikemukakan diatas, gambaran radiologik tidak berkesesuaian dengan berat ringannya keluhan. Pemeriksaan lainnya seperti tes darah atau pengamatan terhadap cairan sendi, terkadang diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit lain pada pasien yang dicurigai menderita OA.

G.    Pengobatan OA
Terdapat banyak ahli yang dapat membantu menyelesaikan masalah OA ini. Dapat disebutkan diantaranya seperti dokter umum, ahli rehabilitasi medik/fisioterapi, ahli terapi okupasional, ahli reumatologi, ahli bedah tulang, neurologis, petugas edukasi kesehatan dan sebagainya, yang penting pasien jangan berobat setelah terjadi deformitas (kecacatan pada tulang).



H.    Perawatan Diri Sendiri
Perawatan diri sendiri serta kemauan untuk mengatasi penyakitnya merupakan hal penting yang harus dimiliki semua pasien OA. Walaupun diketahui bahwa belum ada pengobatan yang manjur untuk OA, namun beberapa hal berikut ini dapat diterapkan. Salah satunya adalah tetap aktif bergerak secara teratur dan rileks. Pada mereka yang demikian itu rasa nyeri biasanya berkurang atau menghilang.

I.       Latihan Yang Benar
Latihan sangat berperan dalam menanggulangi penyakit OA ini terutama berkaitan dengan nyeri. Kegunaan latihan adalah :
·         Mengurangi nyeri
·         Mempertahankan lingkup gerak sendi
·         Meningkatkan kekuatan otot
·         Memperkuat tulang dan jaringan penunjang
·         Mencegah kerusakan bentuk sendi (deformitas)
·         Mempertahankan asupan makanan ke sendi
·         Meningkatkan kesegaran tubuh, dan
·         Mempertahankan atau bahkan meningkatkan kemampuan untuk melakukan aktifitas hidup keseharian.
Latihan yang dilakukan beragam dapat di air atau di daratan. Olah raga renang membantu mempermudah gerakan sendi akibat bantuan efek mengapung air dan rasa hangat yang dapat mengurangi nyeri.

J.      Pengaturan Makanan
Tidak terdapat kaitan langsung antara jenis makanan tertentu dengan kejadian OA. Pada umumnya kelebihan asupan makanan akan mengakibatkan kegemukan atau kelebihan berat badan yang merupakan salah satu faktor resiko pembebanan pada sendi terutama sendi penopang berat badan.

K.    Proteksi Sendi
Hal yang dimaksudkan agar sendi tidak mengalami pembebanan yang berlebihan yang tentunya mengakibatkan rasa nyeri yang lebih hebat atau bahkan kehilangan fungsinya.
Pasien OA diharapkan mampu mengenali aktifitas, stress atau posisi tubuh yang menyebabkan peningkatan rasa nyeri.
Pasien OA diharapkan mampu mengenali aktifitas, stress atau posisi tubuh yang menyebabkan peningkatan rasa nyeri.
Sebaiknya pasien OA merencanakan terlebih dahulu apa yang akan dilakukannya. Juga pengurangan berat badan, istirahat yang cukup, upaya mempermudah suatu aktifitas misalnya menggunakan alat bantu, mengubah bebeapa bagian dari rumah seperti anak tangga diganti dengan rampa, dapat membantu pula dalam mengatasi nyeri saat pasien dengan OA naik tangga.

L.     Obat-Obatan
Banyak jenis obat yang dipakai untuk mengurangi rasa sakit atau keradangan. Obat dimaksud dapat berupa penghilang rasa sakit yang sederhana seperti parasetamol atau menggunakan obat anti inflamasi non steroidal (OAINS). Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah lama penggunaan obat, dosis obat dan efek samping yang mengganggu atau bahkan dapat mengancam nyawa. Reaksi efek samping memang berbeda dari satu orang ke orang lainnya, terbanyak adalah gangguan pada lambung seperti rasa perih atau nyeri ulu hati, kembung, mencret dan sampai pendarahan lambung. Disamping itu juga dapat mengakibatkan gangguan fungsi ginjal sampai kegagalan fungsi ginjal kronik. Oleh sebab itu pemakaian obat-obatan harus sesuai dengan kepentingannya dan bertanggung jawab.
Obat-obatan lain yang dapat membantu adalah steroid atau hioluronan yang disuntikkan ke dalam sendi. Karena memerlukan tindakan dan pemeriksaan khusus maka harus dilakukan oleh ahli rumah sakit.

M.   Fisioterapi
Tindakan fisioterapi sangat membantu mengurangi kecacatan akibat OA dan meningkatkan kinerja pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari.

N.    Pembedahan
Pada keadaan tertentu dimana OA telah mengakibatkan gangguan yang besar, maka tindakan koreksi bedah diperlukan. Terbanyak dilakukan adalah penggantian sendi pada panggul dan lutut. Namun demikian pada sendi bahu tindakan bedah ini juga dapat dilakukan.

  1. Rencana Asuhan Keperawatan
1.        Kerusakan mobilitas fisik sehubungan dengan nyeri dan ketidaknyaanan, gangguan muskuloskeletal.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Ø  Kesulitan dalam bergerak
Ø  Keluhan nyeri
Ø  Saat gerakan rentang gerak terbatas, penurunan kekuatan otot.
Hasil yang diharapkan :
Ø  Mempertahankan posisi dan fungsi, dibuktikan oleh tidak adanya kontraktur
Ø  Menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi sendi serta tungkai yang sakit.
Ø  Menyatakan pemahaman pengobatan individu dan berpartisipasi dalam program rehabilitasi.

Intervensi :
a.       Bantu rentang gerak pada sendi yang tidak sakit.
b.      Tingkatkan partisipasi program latihan rutin
c.       Dorong partisipasi aktifitas sehari-hari
d.      Berikan penguatan positif.

2.        Nyeri sehubungan dengan usia lanjut, penyakit sendi kronis sebelumnya
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Ø  Keluhan nyeri atau perilaku distraksi atau melindungi
Hasil yang diharapkan :
Ø  Keluhan nyeri hilang atau terkontrol

Intervensi :
a.       Kaji keluhan nyeri
b.      Kelola pemberian obat sebelum aktifitas
c.       Berikan penghilang sakit sesuai indikasi
d.      Pertahankan pergerakan alat gerak seperti terapi fisik, alat latihan.

3.        Kurangnya pengetahuan tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan sehubungan dengan kurangnya informasi.
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Ø  Pernyataan yang salah tentang konsep yang diberikan
Hasil yang diharapkan :
Ø  Menyatakan pemahaman tentang kondisi prognosis dan kebutuhan pengobatan.

Intervensi :
a.       Berikan pendidikan kesehatan sesuai dengan tingkat pemahaman klien mengenai kondisi yang dialami.
b.      Kaji ulang tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya
c.       Berikan reinforcement positif terhadap jawaban yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, E.M. 2002, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

Mansoer, A, 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Penerbit Media Aesculapius, FK UI, Jakarta.

Nugroho, W. 2002, Keperawatan Gerontik, Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta

Setiabudi, 1999, Paduan Gerontologi, Edisi 2, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.

ASKEP MYOMA UTERI



Laporan Pendahuluan

Topik           : Asuhan Keperawatan Klien dengan Myoma Uteri

I.         Definisi
Myoma Uteri adalah : neoplasma jinak yang berasal dari otot uterus yang disebut juga dengan Leiomyoma Uteri atau Uterine Fibroid.
Myoma Uteri umumnya terjadi pada usia lebih dari 35 tahun. Dikenal ada dua tempat asal myoma uteri yaitu pada serviks uteri ( 2 % )dan pada korpus uteri ( 97 % ), belum pernah ditemukan myoma uteri terjadi sebelum menarche.

II.     Etiologi
Walaupun myoma uteri ditemukan terjadi tanpa penyebab yang pasti, namun dari hasil penelitian Miller dan Lipschlutz dikatakan bahwa :
Myoma uteri terjadi tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada “Cell Nest” yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh hormon estrogen.

III.  Lokalisasi Mioma Uteri
1.       Mioma intramural ; Apabila tumor itu dalam pertumbuhannya tetap tinggal dalam dinding uterus.
2.       Mioma Submukosum ; Mioma yang tumbuh kearah kavum uteri dan menonjol dalam kavum itu.
3.         Mioma Subserosum ; Mioma yang tumbuh kearah luar dan menonjol pada permukaan uterus.

IV.  Komplikasi
1.         Pertumbuhan leimiosarkoma.
Mioma dicurigai sebagai sarcoma bila selama beberapa tahun tidak membesar, sekonyong – konyong menjadi besar apabila hal itu terjadi sesudah menopause
2.         Torsi (putaran tangkai )
Ada kalanya tangkai pada mioma uteri subserosum mengalami putaran. Kalau proses ini terjadi mendadak, tumor akan mengalami gangguan sirkulasi akut dengan nekrosis jaringan dan akan tampak gambaran klinik dari abdomenakut.
3.         Nekrosis dan Infeksi
Pada myoma subserosum yang menjadi polip, ujung tumor, kadang-kadang dapat melalui kanalis servikalis dan dilahirkan bari vagina, dalam hal ini kemungkinan gangguan situasi dengan akibat nekrosis dan infeksi sekunder.

V.     Faktor Predisposisi
Herediter
Pola Hidup
Hormonal


 



Myoma Uteri


 


Myoma Intramural  Myoma Submukosum               Myoma Subserosum










 


Tanda / Gejala


Perdarahan
pervaginam                  ­ Massa           ­Suhu Tubuh              ¯ Informasi                 Tindakan
                                                                                                mengenai penyakit      Operasi






 
                                                Proses Infeksi/nekrosis

                                                                        Khawatir                     Dampak







 
Gangguan        Hb ¯
Keseimbangan
Cairan
                        Anemia                                                                        Cemas


 
Syok Hipovolemik
                                                                        Penekanan Organ
                                                Sekitarnya



 


                     Vesika Urinaria                                   Rectum
                        Pola Eliminasi Urin                 Pola Eliminasi Alvi


                        Retensio Urin                                      Konstipasi

VI.  Pemeriksaan Diagnostik
1.         Pemeriksaan Darah Lengkap
Haemoglobin         : turun
Lekosit                  : turun/meningkat
Eritrosit                 : turun.
Albumin                : turun
2.         USG
Terlihat massa pada daerah uterus.
3.         Vaginal Toucher
Didapatkan perdarahan pervaginam, teraba massa, konsistensi dan ukurannya.
4.         Sitologi
Menentukan tingkat keganasan dari sel-sel neoplasma tersebut.,
5.         Rontgen
Untuk mengetahui kelainan yang mungkin ada yang dapat menghambat tindakan operasi.
6.         ECG
Mendeteksi kelainan yang mungkin terjadi, yang dapat mempengaruhi tindakan operasi.

Indikasi mioma uteri yang diangkat adalah mioma uteri subserosum bertangkai.. Pada mioma uteri yang masih kecil khususnya pada penderita yang mendekati masa menopause tidak diperlukan pengobatan, cukup dilakukan pemeriksaan pelvic secara rutin tiap tiga bulan atau enam bulan.
Adapun cara penanganan pada mioma uteri yang perlu diangkat adalah dengan pengobatan operatif diantaranya yaitu dengan histerektomi dan umumnya dilakukan histerektomi total abdominal.
Tindakan histerektomi total tersebut dikenal dengan nama Total Abdominal Histerektomy and Bilateral Salphingo Oophorectomy ( TAH-BSO )
TAH – BSO adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat uterus,serviks, kedua tuba falofii dan ovarium dengan melakukan insisi pada dinding, perut pada malignant neoplasmatic desease, leymyoma dan chronic endrometriosis .
Dari kedua pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa TAH-BSO adalah suatu tindakan pembedahan dengan melakukan insisi pada dinding perut untuk mengangkat uterus, serviks,kedua tuba falopii dan ovarium pada malignant neoplastic diseas, leymiomas dan chronic endometriosis.

ASUHAN KEPERAWATAN

I.          DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.         Gangguan Eliminasi Urin (Retensio) berhubungan dengan penekanan oleh massa jaringan neoplasm pada daerah sekitarnya gangguan sensorik/motorik.

2.         Resiko terjadi konstipasi berhubungan dengan penekanan oleh massa pada jaringan sekitanya, kurang asupan makanan tinggi serat.

3.         Resiko tinggi syok hipovolemik berhubungan dengan terjadinya perdarahan yang berulang-ulang.

4.         Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi.

5.         Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan terjadi prosesInflamasi,nekrosis jaringan akibat penekanan massa neoplasma.

DAFTAR PUSTAKA

Bagian Obstetri & Ginekologi FK. Unpad. 1993. Ginekologi. Elstar. Bandung

Carpenito, Lynda Juall, 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC. Jakarta

Galle, Danielle. Charette, Jane.2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. EGC. Jakarta

Hartono, Poedjo. 2000. Kanker Serviks/Leher Rahim & Masalah Skrining di Indonesia. Kursus Pra kongres KOGI XI Denpasar. Mimbar Vol.5 No.2 Mei 2001

…………….2001. Diktat Kuliah Ilmu Keperawatan Maternitas TA : 2000/01 PSIK.FK. Unair, Surabaya

Saifidin, Abdul Bari,dkk. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo & JNKKR-POGI. Jakarta.