Tuesday, 17 September 2013

ASKEP BBLR



LAPORAN PENDAHULUAN

A.  Definisi
Bayi Berat Lahir Rendah adalah bayi yang beratnya kurang atau sama dengan 2500 gram saat lahir. Tujuh persen dari kelahiran termasuk golongan ini. Kebanyakan persoalan terjadi pada bayi yang beratnya kurang dari 1500 gram dengan angka kematian yang tinggi dan membutuhkan perawatan dan tindakan medik yang khusus. Kelompok ini disebut bayi berat lahir sangat rendah.

B.  Klasifikasi
1.      Bayi yang berat lahirnya kurang dari 2500 gram
2.      Bayi berat lahir sangat rendah, kurang dari 1500 gram
3.      Bayi berat lahir sangat rendah sekali, kurang dari 1000 gram

C. Penyebab
1.      Kelainan pada janin
2.      Gangguan fungsi plasenta
3.      Factor ibu ( penyakit vascular, keadaan uterus memburuk)
4.      Infeksi ibu dan anak
5.      Obat dan merokok

D.  Patofisiologi patway















E.  Morbiditas BBLR
1.      Hiperbilirubinemia
2.      Asfiksia neonatorum
3.      Infeksi
4.      Sindrom gangguan pernafasan
5.      Trauma lahir
6.      Kelainan bawaan

F.  Pengelolaan BBLR
Semua bayi berat lahir rendah akan memerlukan :
1.      Suhu yang tinggi dan stabil serta atmosfer dengan kadar oksigen dan kelembaban tinggi
Bayi paling kecil yang beratnya kurang dari 2000 gram dirawat telanjang dalan incubator dalam suhu 32-35oC dengan kelembaban tinggi. Sebelum bayi pulang dirawat di dalam kamar bayi  yang dingin (21oC) untuk menyesuaikan diri dengan suhu kamar.
2.      Pemberaian minum secara hati hati karena ada kecenderungan terisapnya susu ke paru
Minuman diberikan pada bayi yang terkecil dengan kateter makanan no 6 yang terpasang terus melalui hidung bayi. Lebih baik diberikan ASI tetapi ada susu pengganti yang cukup memuaskan yaitu susu yang disesuaikan dengan ASI dengan pemberian 150-180 ml/kg/hr. Pedoman berikut ini merupakan pedoman yang memuaskan. Minum dimulai bila bayi berusia 4 jam.
a.       Hari 1   : 20 ml/500 gram BB/hari
b.      Hari 2   : 30 ml/500 gram BB/hari
c.       Hari 3  : 40 ml/500 gram BB/hari
d.      Hari 4  : 50 ml/500 gram BB/hari
e.       Hari 5  : 75 ml/500 gram BB/hari
3.      Perlindungan terhadap infeksi
Perlindungan ini dilakukan dengan perawatan yang aman. Semua petugas harus mencuci tangannya dengan cermat, menggunakan krem heksaklorofen. Disediakan ruang terpisah untuk bayi yang terinfeksi dan bayi yang lahir di luar rumah sakit. Incubator memberikan lingkunagn yang relatif steril untuk bayi yang terkecil, tetapi ibu harus dianjurkan untuk menyentuh bayinya melalui lubang incubator.

H. Asuhan Keperawatan BBLR
Nursing Diagnosis
Nursing Outcomes
Nursing Interventions
Rational
Thermoregulasi tidak efektif b.d immaturitas sistem pengaturan suhu

Thermoregulation: Neonate
Indikator:
     Temperatur tubuh normal

Skala penilaian:
1. Extremely compromised.
2. Substantially compromised.
3. Moderately compromised.
4. Mildly compromised.
5. Not compromised.


Temperature regulation
-      Tempatkan bayi di dalam incubator.
-      Atur suhu inkubator
-      Pantau suhu aksila pada bayi yang tidak stabil
-      Monitor tanda-tanda hipotermi : fatiq, kelemahan, perubahan warna, kulit,
-      Hindari situasi yang dapat menyebabkan bayi kehilangan panas, seperti terpapar udara dingin, jendela atau mandi

Suhu incubator dapat diatur sesuai kebutuhan.

Memantau suhu tubuh bayi



Menghindari kehilangan panas melalui konduksi.
Risiko infeksi b.d immunitas tidak adekuat

Infection status
Indikator:
     Fever
     Neonate: Lethargi
     Neonate: Hypotrermia
     Neonate: respiratory distress
     Neonate: poor feeding

Skala penilaian:
1. Berat
2. Cukup
3. Sedang
4. Ringan
5. Tidak samasekali

Infection Protection

-      Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik /lokal.
-      Inpeksi kulit dan membran mukosa terhadap redness, extrem warm,atau drainage
-      Inspeksi kondisi insisi IV line dan dressing IV line
-      Pertahankan nutrisi yang adeguat dan istirahat
-      Pertahankan prinsip bersih / steril selama perawatan/pengobatan (sesuaikan)
-      Batasi jumlah pengunjung
-      Pertahankan kebersihan lingkungan
-      Anjurkan keluarga untuk mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien
-      Gunakan universal precaution

Deteksi dini gejala infeksi

Kulit dan membran mukosa sangat rentan terhadap infeksi / kerusakan

Mencegah IV line sebagai pintu masuk kuman
Meningkatkan daya tahan tubuh

Menghindari kontaminasi



Pola nafas tidak efektif b.d immaturitas paru

Repiration status: Ventilation
Indikator:
     Bebas suara nafas abnormal
     Tidak ada sesak nafas
     RR dalam rentang normal
     Irama respirasi teratur
     Tidak ada retraksi dada

Skala penilaian:
1. Extremely compromised.
2. Substantially compromised.
3. Moderately compromised.
4. Mildly compromised.
5. Not compromised.



Airway manegement

-       Bebaskan jalan nafas dengan posisi leher ekstensi jika memungkinkan
-       Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi dan mengurangi dipsnea
-       Auskultasi suara nafas
-       Monitor respirasi dan status oksigen.

Oxygen therapy
-      Menyiapkan peralatan oksigen dan humidifier
-      Memberikan  oksigen tambahan sesuai order
-      Memonitor flow liter oksigen
-      Memonitor posisi canule
-      Memonitor tanda keracunan oksigen
-       oksigen jika memungkinkan

Respiratory monitoring
-       Monitoring kecepatan, irama, kedalaman dan upaya bernafas.
-       Monitor pergerakan , kesimetrisan dada,retraksi dada dan alat bantu pernafasan.
-       Monitoring pernafasan hidung
-       Monitoring pola nafas : bradipneu, tachipneu, hiperventilasi, respirasi kusmaul, cheyne stokes, apneu biot.
-       Monitoring kelelahan otot diagfragma
-       Auskultasi suara nafas, catat area penurunan dan ketidakadanya ventilasi dan bunyi nafas.
-       Lakukan resusitasi bila perlu
-       Posisikan kepala ke samping untuk mencegah aspirasi.

Patensi jalan nafas sarat utama untuk memperoleh ventilasi yang adekuat.







Membantu paru-paru untuk mencukupi kebutuhan tubuh terhadap oksigen.







Menilai perubahan status, untuk menentukan tindakan dalam meningkatkan / mempertahankan status respirasi.
Pola makan   bayi tidak efektif b.d hipersensitif oral

Nutrisional status: Fluid intake
Indikator:
     Asupan cairan peroral
     Asupan TPN

Skala penilaian:
1. Not adequate
2. Slightly adequate
3. Moderately adequate
4. Substantially adequate
5. Totaly adequate
Fluid management:
     Monitor status hidrasi
     Monitor indikasi dehidrasi atau overload cairan.
     Kelola therapi IV / infus
     Berikan cairan sesuai advis
     Tingkatkan asupan oral (ASI langsung / PASI)
     Catat intake dan out put 24 jam.


Keadaan overload akan terdapat crakles, edema, dan asites.
Nutrisi / cairan dapat dipenuhi melaui parnteral atau melalui oral



Menilai keseimbangan.
Risiko Aspirasi b.d kurang mampu mengisap, menelan, bernafas

Repiration status: Airway patensi
Indikator:
    Tidak gelisah
    Tidak tercekik / tersumbat
     RR dalam rentang normal
     Irama respirasi teratur
    Suara jalan nafas bersih
Skala penilaian:
1. Extremely compromised.
2. Substantially compromised.
3. Moderately compromised.
4. Mildly compromised.
5. Not compromised.
Aspirasi precaution
     Monitor tingkat kesadaran, reflek batuk, reflek muntah, kemampuan menelan.
     Monitor status pulmonary
     Pelihara jalan nafas
     Chek posisi NGT
     Hindari feeding jika residu banyak


Tingkat kesadaran, reflek batuk, reflek muntah, kemampuan menelan berpengaruh pada resiko aspirasi


Residu yang banyak menyebabkan bayi muntah yang dapat beresiko aspirasi.

Daftar Pustaka
Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih bahasa: Tim PSIK UNPAD Edisi-6, EGC, Jakarta

Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan Keperawatan untuk perencanaan dan pendukomentasian  perawatan  Pasien, Edisi-3, Alih bahasa; Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta
Markum, AH., 1991, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Jakarta

McCloskey&Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classifications, Second edisi, By Mosby-Year book.Inc,Newyork

NANDA, 2005-2006, Nursing Diagnosis: Definitions and classification, Philadelphia, USA

University IOWA., NIC and NOC Project., 1991, Nursing outcome Classifications, Philadelphia, USA

ASKEP DEFEK SEPTUM VENTRIKEL



DEFEK SEPTUM VENTRIKEL


A.     PENGERTIAN
Defek Septum Ventrikel adalah terbukanya atau adanya defek antara dua ventrikel dari jantung. Lesi inoi mengakibatkan adanya shunt dari kiri ke kanan.
Defek Septum Ventrikel merupakan salah satu jenis penyakit jantung bawaan yang paling sering ditemukan. Penyakit jantung bawaan ini sering ditemukan sebagai defek tersendiri (20%) atau dapat merupakan bagian dari kompleks PJB (Penyakit jantung bawaan) ; seperti TF(Tetralogi Fallot) dan transposisi arteri besar. DSV merupakan lesi yang paling sering ditemukan padasindrom kelainan kromosom.
Terdapat empat macam lokasi anatomis, walaupun tidak dapat dibedakan secara klinis.  Aspek bedah lokasi ini sangat berbeda:
1.      VSD membranosa tepat dibelakang bawah krista supraventrikular pada septum membranosa.  Jumlahnya mencapai 75% seluruh VSD.
2.      Suprakrista atau konal, terletak di atas Krista supraventrikular dekat katup pulmoner,
3.      Intero-posterior, terletak dibawah septum membranosa dekat daun katup tricuspid,
4.      Muskuler, terletak kea rah apeks dan bagian otot septum interventrikular, jenis ini sering ditemukan ganda.

B.      ETIOLOGI
Kongenital

C.     PATOFISIOLOGI
DSV menyebabkan terbukanya batas antara dua ventrikel yang menyebabkan terjadinya percampuran antara  darah teroksigenasi dan yang tidak teroksigenasi. Karena tekanan yang tinggi dari sisi kiri jantung ( umumnya ventrikel kiri), darah teroksigenasi berpindah dari ventrikel kiri ke ventrikel kanan. Hal ini menyebabkan peningkatan kerja dari  ventrikel kanan untuk mengalirkan darah ke arteri pulmonalis menuju paru.


D.     TANDA DAN GEJALA
§  Tergantung besarnya defek
§  Pada bayi terkadang asimptomatis
§  Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan
§  Gagal tumbuh (Failure To Thrive(FTT))
§  Diaporesis
§  Nafsu makan sangat rendah
§  Takipnea
§  CHF

E.      PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.      EKG
a.       Hipertropi ventrikel kiri
b.      Hipertropi atrium kanan
c.       Hipertropi ventrikel kanan pada hipertensi pulmonal
2.      Foto toraks
a.       Hipertropi biventrikel
b.      Hipertropi atrium kiri
c.       Tonjolan arteri pulmonalis prominen
d.      Corakan pembuluh darah lebih tampak.
3.      Ekokardiografi
4.      Kateterisasi

F.      PENATALAKSANAAN
§  Medikamentosa
1.          DSV kecil tanpa gejala tidak perlu terapi
2.          Pada gagal jantung diberikan digoksin 0.01 mg/kgBB/hari dan diuretik selama 2-4 bulan. Makanan berkalori tinggi diberikan secara oral maupun parenteral. Perbaiki anemia dengan preparat besi
3.          Menjaga kebersihan mulut dan pemberian antibiotik profilaksis
4.          Penutupan DSV menggunakan umbrella device (amplatzerr septal occluder)

§  Pembedahan
1.          Pada bayi dengan DSV besar yang mengalami gagal jantung serta retardasi pertumbuhan dan kegagalan terapi medikamentosa dilakukan operaasi pada usia 6 bulan
2.          Setelah usia 1 tahun dengan QP/QS 2: 1
3.          Bayi dengan tanda hipertensi pulmonal tanpa gagal jantung atau gagal tumbuh harus dilakukan kateterisasi pada usia 6 – 12 bulan dan dilakukan segera setelah kateterisasi
4.          Bayi lebih besar dengan DSV dan tanda hipertensi harus segera di operasi





DAFTAR PUSTAKA


_________, 1985, Buku Kuliah 1, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta.

Depkes RI, Pedoman Perkembangan Anak di Keluarga, Jakarta, 1995.

Nelson, 1992, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2, EGC, Jakarta

Wong, 2003, Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta

Suriadi&Yuliani, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1, 2001, CV. Sogung Seto, Jakarta

Zuidema, 1996, Kumpulan Kuliah: Penyakit-Penyakit Jantung, Nur Cahaya.

Noer. S., Waspadji.S., Rachman.M., Lesmana.L.A, Widodo.D., Isbagio.I., Alwi.I., Husodo.U.B., Buku Ajar  Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.






DAFTAR PUSTAKA


_________, 1985, Buku Kuliah 1, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta.

Depkes RI, Pedoman Perkembangan Anak di Keluarga, Jakarta, 1995.

Nelson, 1992, Ilmu Kesehatan Anak, Bagian 2, EGC, Jakarta

Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia USA

Wong, 2003, Keperawatan Pediatrik, EGC, Jakarta

Carpenito, rencana Asuhan dan dokumentasi Keperawatan, Edisi 2, 1995, EGC, Jakarta

Suriadi&Yuliani, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi 1, 2001, CV. Sogung Seto, Jakarta

Noer. S., Waspadji.S., Rachman.M., Lesmana.L.A, Widodo.D., Isbagio.I., Alwi.I., Husodo.U.B., Buku Ajar  Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.